Seberapa sempurnakah kita hingga kita dapat dengan mudah menghakimi orang lain? Ini adalah sebuah sarkasme, dan menimpa Kim Ung Yong. Ia adalah salah satu "the smartest people" yang memiliki IQ 210. Saat berusia antara tiga sampai enam tahun, ia sudah disibukkan dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa tamu di Universitas Hanyang Korea Selatan. Di usianya yang ketujuh, ia menerima undangan dari NASA. Ia secara resmi bekerja di sana sebagai peneliti NASA ketika berusia 15 tahun. Namun Kim berkata, "Saya menjalani kehidupan seperti robot, menyelesaikan tugas yang sama setiap hari, makan kemudian tidur, saya tidak punya teman, dan saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya jalani." Ia putuskan untuk meninggalkan NASA, dan memilih mengajar di Chungbuk National University, Korea Selatan. Tahukah Anda bagaimana media mempermalukannya kala itu? Ia dicap sebagai "genius loser". Ia berkata bahwa masyarakat tidak boleh menilai siapapun dengan standar sepihak. Setiap orang memiliki tingkat pembelajaran, harapan, bakat, dan impian yang berbeda, dan kita harus menghargai itu.
Anda harus jeli mengenai penghakiman yang dilarang oleh Alkitab. Penilaian dan penghakiman dalam kisah Kim Ung Yong tidak berdasar dan jahat. Kita tidak tahu alasan/dasar dari pilihan seseorang. Penghakiman adalah sikap yang buruk dan cermin dari kesombongan. Tuhan Yesus dengan tegas melarang perbuatan tersebut dalam bacaan Alkitab hari ini, "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi." Kehidupan kita sehari-hari sarat dengan penghakiman. Jangankan keputusan besar dengan berbagai perhitungan, bahkan perkara pakaian yang dikenakan tidak luput juga dari penghakiman. Ini adalah sebuah tantangan bagi kita sebagai anak Tuhan. Renungkanlah, apakah Anda mudah mengeluarkan kata-kata menghakimi. Jika ya, Anda harus melatih penguasaan diri. Petrus berkata penguasaan diri sebagai salah satu kebajikan yang harus dilakukan dengan tekun, artinya dibutuhkan konsistensi dalam melakukannya. Mulai saat ini, jadikan setiap situasi yang menggoda Anda untuk melakukan penghakiman sebagai kesempatan untuk melatih penguasaan diri. [LS]