Purim merupakan salah satu hari raya orang Yahudi untuk memperingati peristiwa yang terjadi di Persia dan Media pada masa pemerintahan Raja Ahasyweros. Asal mula Purim ada dalam kitab Ester. Seorang jahat yang bernama Haman, karena kebenciannya kepada Mordekhai, orang Yahudi, berniat untuk untuk memusnahkan semua orang Yahudi. Pertolongan Tuhan begitu nyata dengan kegagalan Haman untuk melakukan rencana jahatnya, sehingga seluruh umat Yahudi selamat. Haman yang berencana untuk menggantung orang-orang Yahudi di Susan, berakhir dengan kondisi yang sebaliknya, ia dan kawanannya dihukum gantung. Untuk memperingati hal ini, pada hari Purim, keseluruhan Kitab Ester dibacakan, dan setiap kata Haman muncul, maka setiap orang akan membunyikan penggaduh suara (noisemaker), sehingga nama Haman tenggelam. Itulah sebabnya sampai hari ini, bahkan ketika Haman sudah tiada, tetapi nama Haman menjadi sebuah kenangan yang buruk bagi kalangan orang Yahudi.
Melalui kisah Haman ini, tepatlah apa yang dikatakan di dalam Amsal Salomo bahwa kenangan kepada orang benar akan mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk. Kenangan baik tentu menjadi dambaan setiap kita, namun tidak tercipta begitu saja, semua itu merupakan buah-buah manis kehidupan yang kita hasilkan. Hidup di dunia hanya sekali, namun kenangan yang kita wariskan akan hidup selamanya. Seperti apa kita dikenang akan terbentuk dari sikap dan cara hidup, keputusan-keputusan yang kita ambil, karya-karya yang kita hasilkan, dan seberapa besar kita memberi dampak kepada hidup orang lain. Karena itu, selama kita hidup di dunia ini kita bekerja untuk memberi buah. Bangunlah itu mulai dari sekarang. Alangkah indahnya, bila ketika kita telah tiada, bukti nyata hidup kita tetap menjadi berkat bagi orang lain. [RS]