EKSPEKTASI VS REALITA

Sabtu,29 Februari 2020

BACAAN NDC BIBLE STUDY

Mazmur 52

AYAT HAFALAN

Kolose 2:4-5

RENUNGAN INSPIRASI

Ketika duduk di bangku kuliah, saya dan teman-teman sering berdiskusi tentang pernikahan. Kami begitu mendambakan sebuah pernikahan karena ekspektasi kami tentang pernikahan begitu tinggi. Kami berpikir ada banyak hal menarik yang dapat dilakukan dalam pernikahan, yang pada kenyataannya tidak dapat dilakukan oleh pernikahan itu sendiri. Seorang penulis dan konselor relasi asal Amerika, Debra Fileta, menyatakan bahwa apa yang dipikirkan orang-orang single dengan apa yang dikatakan oleh pasangan yang sudah menikah jauh berbeda (pada topik komunikasi, seks, konflik, dan hubungan yang intim). Ketika ekspektasi bertemu dengan realita, maka ini akan menimbulkan kekecewaan, perasaan hancur, kepahitan, bahkan perceraian. Masalahnya, banyak orang yang memasuki jenjang pernikahan dengan ekspektasi tinggi namun pengertian akan pernikahan itu sendiri masih rendah. Survey yang dilakukan Fileta menunjukkan 96% pasangan yang telah menikah meyakini bahwa orang-orang single tidak tahu apa yang sebenarnya mereka hadapi tentang pernikahan. 
Mendambakan pernikahan tidak salah, itu merupakan suatu hasrat yang ditaruh dalam diri kita oleh Allah (Markus 10:6-8). Tapi begitu banyak waktu kita habiskan untuk mengidolakan pernikahan dengan ekspektasi yang begitu tinggi tanpa menyisihkan waktu untuk mempersiapkannya. Sedikit sekali waktu yang kita gunakan untuk mengenali diri sendiri, memulihkan diri dari masa lalu, memahami apa yang kita butuhkan dalam suatu hubungan, membedakan hubungan yang sehat dan tidak, mengenali kecocokan sifat, membuat target, karena ini semua berbicara tentang kepenuhan dalam hidup. Sobat muda perlu mengatur ulang ekspektasi tentang pernikahan. Kepenuhan hidup tidak dimulai ketika kita menikah, tapi saat kita mulai berelasi dengan-Nya. Kepenuhan terjadi dalam hidupmu ketika kamu berinteraksi dengan orang-orang yang sudah Tuhan tempatkan di sekitarmu, membagikan kasih-Nya kepada mereka yang membutuhkan, memahami dan menjalani panggilan Tuhan dalam hidup. Ketahuilah, pernikahan bisa menjadi bagian yang indah dalam perjalanan hidupmu, tapi ini bukan tujuan akhirmu. Seiring dengan kepenuhan hidup yang kita alami, maka semakin besar kemungkinan kita bertemu dengan pasangan yang Tuhan tetapkan. Jadi, hidup bukan semata-mata untuk pernikahan. Hiduplah untuk bertumbuh, menyembuhkan, belajar, melayani Tuhan dan sesama. Ketika dua orang yang sudah mengalami kepenuhan hidup masuk dalam jenjang pernikahan, ini adalah suatu pernikahan yang terbaik. [LS]

Bagaimana perspektifmu selama ini tentang pernikahan? Apakah pernikahan menjadi tujuan hidupmu? Setelah membaca renungan hari ini, apa hal terbesar yang mau sobat muda ubah dalam hal perspektif pernikahan?
©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com