Neal Beidleman, salah satu orang yang selamat dalam Tragedi Everest tahun 1996 mengatakan, "Tragedi dan malapetaka tidak disebabkan oleh sebuah keputusan, kejadian, atau kesalahan tunggal, tetapi merupakan titik puncak dari banyak hal di hidup Anda. Ada sesuatu yang terjadi, dan kejadian itu menjadi katalisator bagi datangnya semua resiko yang Anda ambil." Dalam tragedi yang merengut 8 nyawa pendaki tesebut, ada serangkaian kesalahan yang tidak diperhatikan para pendaki. Saat itu ada 4 tim ekspedisi yang melakukan pendakian ke puncak di waktu yang hampir bersamaan. Hal tersebut menyebabkan kemacetan di jalur yang merupakan Dead Zone karena kandungan oksigennya hanya 1/3 dari yang ada di permukaan laut. Keadaan menjadi lebih buruk karena tali pemandu di beberapa titik pendakian ternyata belum dipasang.
Pernyataan Neal juga berlaku di kehidupan kita. Anda mungkin merasa biasa-biasa saja ketika jarang berdoa, tidak pernah saat teduh, atau melakukan sikap-sikap negatif lainnya yang tidak berdampak secara langsung. Ini seperti ketika Anda tidak melakukan servis berkala terhadap kendaraan Anda, tidak memakai sabuk pengaman atau tidak memakai helm. Anda melakukannya berkali-kali dan merasa aman-aman saja. Satu hal yang harus Anda ingat, bahwa ketika Anda mengabaikan kesalahan-kesalahan tunggal yang Anda perbuat dalam hidup Anda, akan selalu ada katalisator atau hal-hal yang akan membuat suatu resiko berupa tragedi atau malapetaka terjadi. Dalam tragedi Everest, badai merupakan katalisator dari malapetaka yang terjadi. Renungan hari ini mengingatkan kita untuk memperhatikan setiap detail dari apa yang kita lakukan. Jangan pura-pura bodoh terhadap hal-hal yang sebenarnya Anda ketahui memang salah dan perlu dicegah. Saat Anda memperhatikan setiap detail, maka sebenarnya Anda sedang melakukan persiapan dan mencegah datangnya "badai". [LS]