John C. Maxwell pernah berkata, "Pemimpin yang sejati adalah pemimpin yang melayani kepentingan orang lain bukan kepentingan diri sendiri." Seorang pemimpin sejati akan mencari tahu akan kebutuhan orang lain dengan menawarkan dirinya untuk membantu. Lebih lanjut lagi ia berkata, "Ketika Anda mencontohkan diri menjadi seorang pemimpin yang melayani, maka sebetulnya Anda sedang mempengaruhi orang yang Anda pimpin untuk bisa melakukan semua pekerjaan dengan lebih baik." Bagaimana dengan kita, apakah kita menjadi orang percaya yang memiliki hati yang melayani?
Salah satu warisan yang diberikan oleh Yesus kepada para murid adalah menjadi servant leader (pemimpin yang melayani). Yesus adalah guru dan sangat dihormati oleh murid-murid-Nya, namun saat mereka berada bersama-sama dalam sebuah ruangan untuk melakukan perjamuan, Yesus tiba-tiba menanggalkan jubah-Nya lalu mengikat sehelai kain pada pinggang-Nya dan membasuh kaki para murid. Pekerjaan membasuh kaki adalah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh para budak atau pegawai rendahan, dan Yesus mengambil alih pekerjaan itu. Yesus berbicara melalui perbuatan-Nya kepada para murid, "Kelak ketika engkau menjadi seorang pemimpin dalam pelayanan, milikilah hati yang mau melayani orang lain." Saat ini gereja bukan hanya membutuhkan pemimpin rohani yang hebat dan dipakai untuk mendemonstrasikan kuasa Tuhan, namun gereja sangat memerlukan pemimpin rohani yang benar-benar memiliki hati yang melayani seperti Kristus. Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan untuk belajar menjadi pribadi yang melayani. Sehingga generasi berikut dapat meneladani apa yang mereka lihat. Di masa akan datang gereja tidak akan kekurangan pemimpin yang memiliki hati yang melayani karena benih yang telah kita tabur hari ini akan berbuah dalam kehidupan mereka.