Albercht and Albert Durer bermimpi untuk belajar seni rupa dalam kondisi keluarga yang memprihatinkan. Kedua pemuda tersebut kemudian sepakat untuk melempar koin. Yang kalah akan bekerja di tambang dan membiayai pendidikan seni rupa saudaranya, dan setelah saudaranya menyelesaikan pendidikannya dalam waktu 4 tahun, ia akan membiayai pendidikan saudaranya dengan menjual hasil karya seni ataupun kalau perlu dengan bekerja di tambang. Albrecht menang. Empat tahun kemudian, Albertcht pulang setelah menjadi seorang seniman yang sukses dan memiliki penghasilan yang cukup besar. Ia mendapati tangan Albert telah begitu rusak karena pekerjaan di tambang sehingga tidak bisa lagi memegang kuas. Sebagai ungkapan rasa terima kasih dan hormat, Albercht mengabadikan tangan saudaranya, tangan yang telah berkorban demi mewujudkan cita-cita. Dunia mengenal karya itu sebagai suatu karya persembahan cinta yang tulus, yang kemudian dikenal dengan "Praying Hands."
Kisah ini mungkin hanyalah sebuah legenda dibalik sebuah karya besar, tetapi dari kisah ini kita dapat belajar tentang nilai pengorbanan dan rasa terima kasih. Bukankah Tuhan Yesus sendiri telah mengorbankan diri-Nya bagi kita di kayu salib? Sudah selayaknya kita membalas pengorbanan-Nya dengan mengasihi sesama dan memberikan yang terbaik dengan berkat, talenta, waktu, dan energi yang Tuhan berikan. Dalam perbuatan dan perkataan, layani sesama dalam kasih untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan. [EH]