Roberto Goizueta adalah pemimpin tertinggi perusahaan Coca Cola. Ketika ia mulai memimpin pada tahun 1981, nilai perusahaannya sebesar 4 Milyar dolar. Di bawah kepemimpinannya, nilai perusahaan terus meningkat menjadi 150 milyar dolar, sekaligus menjadikan Coca-Cola sebagai perusahaan tersukses nomor dua di Amerika. Pada tahun 1997, Goizueto divonis menderita kanker paru-paru, dan enam minggu setelah didiagnosa tersebut dia pun meninggal dunia. Namun setelah kematiannya, para pemegang saham Coca-Cola tidak panik. Seorang analis perusahaan investasi bernama Emanuel Godman mengatakan bahwa "Goizueta telah mempersiapkan masa depan perusahaan ini kalau-kalau ia tidak lagi ada dengan melakukan dua hal. Pertama, ia menjadikan perusahaannya sekuat mungkin selama ia hidup. Kedua, ia mempersiapkan pengganti, Douglas Ivester. Goizueta meninggalkan warisan berharga, yaitu Ivester, seorang yang membawa perusahaan Coca Cola tetap kokoh.
Bagaimana dengan kita sebagai murid Kristus? Kita mungkin telah sukses membawa banyak orang mengenal Tuhan. Kita membuat pelayanan gereja maju dan berkembang dengan luar biasa. Pertanyaannya sekarang, apakah kita telah meninggalkan warisan yang penting bagi pelayanan? Sudahkah kita melatih para pemimpin baru sama seperti kita? Apakah kita telah membagikan pengalaman hidup kepada generasi penerus? Seorang pakar kepemimpinan dunia pernah berkata, "Keberhasilan seseorang tidak akan diukur menurut apa yang telah dicapai secara pribadi atau bahkan menurut apa yang telah dicapai dalam tim selama dipimpinnya. Keberhasilan seseorang diukur menurut seberapa baik tim tersebut bekerja setelah ditinggalkannya." Kita akan layak disebut sukses mengerjakan pekerjaan Tuhan saat pelayanan dapat terus berkembang pesat meski kita tidak ada lagi. Salah satu warisan paling berharga yang bisa kita berikan bagi pekerjaan Tuhan adalah mencetak generasi penerus untuk tetap menggenapi rencana-Nya di dalam dunia.