Memang menyenangkan bisa berada di tengah-tengah orang yang memiliki selera humor yang tinggi. Tapi tahukah Anda bahwa terkadang candaan itu bisa membawa bencana bagi orang lain. Candaan yang merendahkan orang lain dan dilakukan secara konsisten dengan target yang sama pada akhirnya menjadi verbal bullying. Salah satu kasus verbal bullying di kalangan remaja yang pernah menjadi sorotan terjadi di Korea Selatan. Siswa kelas satu SMA, yang diketahui memiliki marga Choi, bunuh diri dengan cara terjun dari apartemen tempat tinggalnya di daerah Gyeongsan, pada tanggal 11 Maret 2013. Kematian Choi membuat kegemparan, namun sekaligus menyadarkan masyarakat dan pemerintah Korea Selatan mengenai bahaya verbal bullying. Sebelum bunuh diri, Choi menulis sebuah surat yang ditujukan kepada polisi. Di dalam suratnya, Choi menuliskan lima nama orang yang mem-bully-nya selama ini, dan bercerita kalau sejak tahun 2011, ia telah mengalami penghinaan fisik secara verbal di sekolah atau pun saat di luar sekolah.
Benarlah apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan bahwa "Lidah mempunyai kuasa untuk menyelamatkan hidup atau merusaknya; orang harus menanggung akibat ucapannya". (Amsal 18:21 BIS). Dengan perkataan kita dapat mematikan semangat orang, dengan perkataan kita dapat membuat orang lain memandang rendah dirinya, bahkan lebih buruk lagi, karena perkataan seseorang bisa mengakhiri hidupnya. Oleh karena itu, mulai saat ini, hendaklah kita menyaring terlebih dahulu perkataan yang kita ucapkan dan bertanggung jawab atas perkataan itu. Biarlah masing-masing kita memiliki perkataan yang penuh kasih dan berkat, agar dapat senantiasa membangun orang lain. (SL)