Pada saat kehidupan berjalan baik dan mulus tentu mudah untuk berkata "Terima kasih Tuhan, Engkau sungguh baik dan sangat baik". Namun bagaimana saat kehidupan tidak berjalan baik, apakah kita masih bisa untuk tetap mengucap syukur dan bersukacita? Hari ini, kita belajar dari seorang yang beriman teguh bernama Habakuk.
Nabi Habakuk hidup di masa yang luar biasa sulit.
Di satu sisi ia harus menghadapi penyerangan bangsa Babel, dan di sisi lain ia melayani pada masa pemerintahan Yoyakhim yang terkenal jahat di mata Tuhan. Namun Habakuk tidak terpengaruh situasi saat itu. Ia memilih memuji Tuhan dan bersukacita, ia percaya bahwa Tuhan memiliki rencana indah dibalik kejadian tersebut (Habakuk 3:17-18). Saat ini mungkin Anda sedang mengalami situasi yang sulit, hati dan mulut Anda pun terasa berat untuk bersyukur. Mari teladanilah apa yang dilakukan oleh Habakuk. Segera datang kepada Tuhan, naikkan pujian dan syukur dari hati sebagai tanda bahwa Anda percaya Tuhan dengan segenap hati. Jika perlu, Anda dapat meniru ucapan Habakuk dan menggantinya sesuai dengan situasi yang sedang dialami. Contohnya seperti ini, "Meskipun harga-harga terus berlari naik, tidak ada kenaikan gaji apalagi bonus tahun ini, pasar saham terus menurun, dana menipis, negosiasi gagal terus, dan banyak hal yang tidak menentu, namun aku akan bersukacita di dalam Tuhan, aku akan bersukacita di dalam Tuhan Juruselamatku". Saat Anda melakukan hal ini keadaan tidak otomotis berubah. Namun ketahuilah, Tuhan telah menambah kekuatan iman Anda. Iman Anda semakin murni dan hidup Anda semakin bergantung kepada kehendak dan rencana-Nya. (FD)