"Apa resolusi kamu di tahun 2019 ini?", tanya seorang pemuda kepada temannya lewat pesan singkat dari sosial media WhatssApp. Temannya pun menjawab, "Resolusi saya di tahun 2019 ini adalah mewujudkan resolusi yang pernah dibuat di tahun 2018." Artinya, temannya itu tidak berhasil melaksanakan resolusi di tahun lalu dan ia mencoba mewujudkan resolusi tahun lalu di tahun ini. Hampir kebanyakan orang suka menuliskan resolusi tahun baru, namun hanya sedikit orang yang mewujudkan resolusinya tersebut. Dalam sebuah artikel yang ditulis Timothy Pychyl seorang kepala asisten dosen di bidang psikologi di Carleton University di Ottawa, Kanada. Salah satu penyebab banyak orang gagal mewujudkan resolusi tahunan karena memiliki kebiasaan suka menunda.
Hal yang sama mungkin juga terjadi kepada sebagian besar kita. Hampir setiap tahun membuat daftar resolusi namun tidak pernah terealisasi. Ada yang membuat resolusi: Ingin kehidupan rohani semakin dewasa, ingin melayani Tuhan, ingin hidup sehat, atau ingin meninggalkan kebiasaan buruk. Membuat resolusi tahun baru tentu baik, namun tidak cukup hanya sampai disitu. Resolusi perlu segera dieksekusi, karena bila terus ditunda maka kita akan semakin sulit mewujudkan apa yang kita inginkan. Sebagai contoh: Bila Anda ingin mendapatkan kehidupan rohani dewasa, segera bertindak untuk berdoa dan saat teduh setiap hari. Jika Anda ingin melayani Tuhan, segera daftarkan diri kepada pengurus gereja. Jika Anda ingin memiliki tubuh yang sehat, maka mulailah berolahraga minimal seminggu 1 kali dan konsumsilah makanan yang sehat. Bila Anda ingin meninggalkan kebiasaan buruk, segeralah membangun kebiasaan baik. Apapun yang menjadi daftar resolusi tahun baru Anda, jangan menundanya. Milikilah komitmen yang kuat untuk merealisasikannya. (FD)