Di bulan Natal seperti ini, begitu banyak orang yang memberikan hadiah Natal kepada orang lain. Namun ada beberapa kejadian dimana seseorang merasa bahwa hadiah Natal yang diterima tidak sesuai dengan harapannya. Jeff Galak, seorang asisten Profesor Pemasaran dari Universitas Carnegie Mellon, Amerika Serikat, mengatakan bahwa penyebab terbesar buruknya pemberian hadiah adalah pemberi dan penerimanya memiliki fokus berbeda. "Kami menemukan bahwa si pemberi ingin menyenangkan penerimanya dengan hadiah yang dapat segera dinikmati, sementara pihak yang menerima sebetulnya lebih tertarik pada hadiah dengan nilai guna tinggi untuk jangka panjang," ujar Jeff, "Kami melihat ketidakcocokan antara proses berpikir dengan motivasi pemberi hadiah serta penerimanya." Jeff menyarankan, bila kita ingin memberikan hadiah kepada seseorang, cobalah untuk berempati terhadap pihak yang akan menerima hadiah, dengan demikian kita dapat memikirkan hadiah yang tepat secara matang.
Manusia bisa saja salah saat memberikan hadiah Natal, namun Allah tidak pernah salah memberikan hadiah kepada kita. Allah telah memberikan hadiah yang paling tepat bagi manusia, yaitu Yesus Kristus. Di dalam Yesus, kita berhak untuk menerima berkat sorgawi yang tidak bisa diberikan oleh dunia, antara lain: Menjadi umat yang kudus dihadapan-Nya (Efesus 1:4), menjadi Anak dari Allah Bapa di sorga (Efesus 1:5), beroleh pengampunan dosa (Efesus 1:7), menerima rahasia dan penyataan akan kehendak-Nya dan kehidupan yang kekal bersama dengan Allah (Efesus 1:10). Pemberian Allah ini tentu melebihi apa yang kita butuhkan di dalam dunia ini, bukan? Dia memikirkan apa yang kita butuhkan, bukan hanya sampai kita berusia 50-90 tahun, namun sampai kekekalan. Mengetahui kebenaran ini, patutlah kita senantiasa hidup dengan penuh ucapan syukur kepada Allah, karena Dia telah memberikan hadiah yang melebihi apa yang kita pikirkan. (FD)