Seok Chang Woo terpaksa kehilangan kedua lengannya setelah tersengat listrik bertegangan lebih dari 20.000 Volt pada saat mengalami kecelakaan kerja. Insiden yang hampir merenggut nyawanya itu, akhirnya menghentikan karirnya sebagai seorang electrical engineer. Suatu hari setelah Chang Woo mengalami kecelakaan, anaknya meminta dia untuk menggambarkan sesuatu. Hasil lukisannya yang dibuat untuk anaknya, ternyata menuai banyak pujian dari banyak orang. Sehingga sejak saat itu ia memutuskan untuk menekuni seni lukis. Pada upacara penutupan Sochi Winter Paralympic di Rusia pada tahun 2014 lalu, Chang Woo mendapatkan kehormatan untuk mendemostrasikan kemampuan melukisnya. Dalam wawancaranya dengan BBC, Chang Woo mengatakan bahwa ia menolak untuk menoleh ke belakang dan terjebak dalam masa lalu. Ia belajar untuk ikhlas menerima realita hidup dan fokus pada apapun yang dapat ia kerjakan di masa sekarang dan masa depan.
Tidak jarang dalam hidup ini kita diizinkan untuk mengalami suatu insiden yang memaksa kita untuk 'banting setir'. Kecelakaan, kebangkrutan, atau kehilangan orang yang dikasihi dapat memaksa kita untuk membuat penyesuaian yang besar dalam hidup kita. Yusuf memiliki kehidupan yang baik sebelum ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Setelah terpisah dari keluarganya, Yusuf harus menerima realita bahwa ia sekarang adalah seorang budak yang dipekerjakan di rumah seorang pejabat Mesir. Namun hal itu tidak membuat ia berdiam diri dan meratapi nasibnya. Yusuf tetap berpikir positif dan fokus pada apapun yang bisa ia kerjakan. Ia memberikan yang terbaik dalam segala pekerjaannya sehingga Yusuf mendapatkan kasih tuannya (Kejadian 39:3-4). Yusuf terus memandang ke depan walau harus melewati banyak pasang surut kehidupan. Hendaklah kita juga belajar seperti Yusuf, jangan suka menoleh ke masa lalu, apalagi meratapinya dan tenggelam di sana, melainkan arahkan pandangan kita ke masa depan dengan penuh iman dan pengharapan. (EV)