Ketidakpedulian ternyata bukan saja dapat ditemukan di kalangan luar gereja. Namun, rekan dalam satu pelayanan pun dapat bersikap demikian. Kenyataan pahit ini pernah dirasakan oleh Rasul Paulus saat melayani Tuhan. Demas yang adalah rekan sepelayanannya, telah tega meninggalkannya seorang diri (2 Tim. 4:10). Kata asli “meninggalkan” atau “abandon” (Bhs. Inggris), lebih tepat diterjemahkan “benar-benar meninggalkan seseorang dalam situasi yang berbahaya dan mengerikan.” Padahal pekerjaan Tuhan waktu itu sedang berkembang dan sangat membutuhkan bantuannya. Seorang yang level pelayanannya mengimbangi Paulus pun ternyata bisa tidak peduli dengan rekan sepelayanannya. Apakah jiwa melayani Demas hilang karena godaan dunia semata? Sikap ketidakpedulian Demas atas rekan sepelayanannya tentu saja bukan satu hal yang muncul dengan tiba-tiba. Kemungkinan dalam hubungannya dengan Paulus telah berkali-kali mengalami benturan satu dengan yang lain. Kejadian yang berulang-ulang hingga terakumulasi menjadi satu titik keputusan, hingga memilih dunia dan tega meninggalkan Paulus.
Kisah Demas di atas menjadi pelajaran bagi kita para pelayan Tuhan saat ini, bahwa dalam melayani Tuhan, ego dan kepentingan diri sendiri haruslah disingkirkan. Kita harus belajar untuk menaruh kepentingan pekerjaan Tuhan lebih penting dari hak dan kepentingan diri sendiri. Rekan sepelayanan bukanlah orang sempurna. Akan ada masanya dimana kita melihat ada kelemahan dalam dirinya, sebagaimana diri kita pun memiliki kelemahan. Kedewasaan untuk dapat saling menerima satu sama lain dibutuhkan dalam hal ini. Mari kita belajar seperti Yesus, Dia telah melepaskan atribut dan status sebagai Raja. Dia merendahkan diri-Nya dan mau melayani manusia, bahkan hingga mati di atas kayu salib. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda telah belajar memiliki kedewasaan dalam melayani? Jika belum, saatnya Anda belajar kepada Yesus untuk dapat menjadi pribadi yang rendah hati. (DF)