“There is no Room Available!” (Tidak ada lagi kamar yang tersedia). Jawaban ini biasanya kita terima bila terlambat melakukan pemesanan kamar hotel di masa liburan seperti ini. Kamar-kamar di hotel atau penginapan biasa sudah terisi penuh dari jauh hari. Pada Natal yang pertama, Lukas mencatat ada suatu peristiwa sejarah yang penting. Kaisar Agustus memberi titah untuk mengadakan sensus kepada semua penduduk Israel di daerah mereka masing-masing. Yusuf dan Maria pergi dari Nazaret di Galilea ke Betlehem di Yudea. Waktu itu Maria sedang mengandung bayi Yesus. Ketika mereka sampai di Betlehem, mereka mencari penginapan. Namun saat mereka mendatangi penginapan yang ada, pemilik penginapan itu berkata, “Sorry, there is no room available!” (Maaf, tidak ada lagi kamar yang tersedia). Tempat yang tersedia hanyalah sebuah ruangan di bagian belakang, tempat hewan peliharaan yang sakit biasa ditempatkan. Maria pun akhirnya harus melahirkan bayi Yesus di tempat itu. Ironis sekali, bukan? Tidak ada tempat bagi Yesus! Padahal Dia adalah Raja di atas segala raja yang berinkarnasi menjadi manusia. Palungan sebagai bukti bahwa tidak ada tempat bagi-Nya pada saat itu.
Itulah yang terjadi dalam peristiwa Natal pada 2000 tahun yang lalu. Bagaimana dengan saat ini? Pada saat ini, banyak hati orang yang serupa dengan penginapan-penginapan di Betlehem: penuh sesak! Penuh sesak dengan berbagai kepentingan, kesenangan, dan daya tarik dunia. Penuh dengan ambisi untuk mengejar nikmat, kedudukan dan kekayaan dunia. Penuh dengan berbagai ketakutan, kekhawatiran dan dosa. Banyak orang pada masa kini, yang secara langsung atau tidak langsung berkata kepada Yesus: ”Tidak ada tempat bagi-Mu!” Yesus tidak menjadi pusat hidup yang diutamakan. Dia hanya ditempatkan di dalam sudut “kandang” yang kotor, bukan di tempat yang utama dan mulia. Bagaimana dengan Anda? Masih adakah tempat bagi Yesus di dalam hatimu? Marilah kita mengintrospeksi diri kita masing-masing. (DF)