Maksud dari judul renungan ini adalah seorang pelayan yang bukan sekedar status, tapi seorang pelayan yang benar-benar memiliki hati yang melayani. Hal ini memang sengaja diangkat, karena banyak dari kita yang semakin dalam memasuki area pelayanan gereja, justru semakin jauh dari perilaku seorang pelayan. “Aku lebih berhak ini dan itu daripada kamu, karena aku sudah sekian puluh tahun melayani.” Rasanya tidak pantas kalimat-kalimat itu dikatakan seorang “aktivis pelayanan”, namun ada saja yang dengan bangga mengucapkannya. Jika diminta untuk melakukan sesuatu yang kurang disukai, maka akan keluar jawaban: “Aku ini pelayan Tuhan, bukan pelayan kamu.” atau “Suruh saja orang lain, aku sibuk.”
Dalam sebuah Perjamuan Kudus di awal tahun 1968, Martin Luther King Jr. mengutip sabda Yesus dalam Matius 10 tentang hal melayani. Lalu ia berkata, “Setiap orang bisa menjadi orang besar karena setiap orang bisa melayani. Anda tidak perlu menjadi seorang sarjana untuk melayani. Anda tidak harus pandai berkata-kata untuk bisa melayani. Anda pun tidak perlu mengenal Plato atau Aristoteles untuk bisa melayani. Anda hanya membutuhkan hati yang penuh kasih karunia, jiwa yang digerakkan oleh kasih.” Hari ini marilah kita belajar untuk menjadi pelayan Tuhan yang tidak menuntut untuk dilayani. Kita adalah ibarat sebatang lilin. Kita diberi hidup bukan untuk diri kita sendiri. Kita ada di tengah-tengah dunia untuk menjadi terang, dan untuk menjadi terang kita harus rela seperti lilin yang dibakar untuk memberikan terangnya. (DF)