Rodney Stark, seorang sosiolog, memaparkan tentang penyebab pesatnya perkembangan kekristenan pada abad pertama. Dalam buku The Rise of Christianity, Stark mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang mendukung hal itu adalah perlakuan orang Kristen terhadap mereka yang terkena wabah penyakit. Pada umumnya, orang meninggalkan anggota keluarganya yang mulai terjangkit wabah penyakit yang terjadi pada masa itu. Sebaliknya, orang Kristen tetap menjaga dan merawat anggota keluarganya yang terjangkit penyakit tersebut. Mereka bahkan merawat orang lain juga yang telah ditelantarkan keluarganya. Kasih yang bukan sekadar dikatakan namun dipraktikkan inilah yang menarik banyak orang untuk menjadi Kristen.
Pada saat Tuhan Yesus Kristus melayani di tengah dunia ini, Dia selalu tergerak melayani orang lain dengan hati yang penuh belas kasih (moved with compassion). Firman Allah berkata, “Ia (Yesus) merasa kasihan sekali terhadap orang banyak yang datang, sebab persoalan mereka begitu sulit dan mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan atau ke mana mereka harus mencari pertolongan. Mereka seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36 FAYH). Tidak heran jika pelayanan Yesus sangat dinantikan. Jumlah orang yang mengikuti-Nya terus bertambah banyak setiap hari. Para rasul dan murid-murid terdahulu ternyata meneladani cara pelayanan Yesus yang penuh belas kasih kepada jiwa-jiwa. Hasilnya, jumlah orang percaya terus bertambah berlipat kali ganda dan dampaknya bisa kita rasakan hingga saat ini (Kis. 2:42-45). Sebagai pelayan Kristus di zaman modern ini, apakah belas kasih dari Allah selalu menjadi bagian utama dalam pelayanan kita? Orang yang melayani dengan belas kasih dari Allah, pasti tidak akan pernah menganggap pelayanan itu sebuah beban, kewajiban atau untuk kebanggan diri sendiri. Bahkan dia rela melayani meski tidak mendapat penghargaan atau pengakuan dari orang lain. Sikap melayani seperti inilah yang pada akhirnya membuat banyak orang tertarik untuk datang dan mengenal Tuhan. (DF)