Dalam buku “The Volunteer Revolution”, Bill Hybels bercerita tentang bagaimana dia dan jemaatnya memulai pelayanan di gerejanya. Pada saat itu, Bill Hybels dan jemaatnya mendirikan gedung gereja, mereka tidak punya cukup uang untuk mempekerjakan karyawan. Jadi, semua anggota diminta melayani. Ada yang membersihkan toilet, merawat taman, mengurus administrasi, dan lain-lain. Kekurangan dana itu ternyata membawa berkat besar. Ketika semua terlibat dalam pelayanan, mereka merasa diri berarti. Juga tumbuh persekutuan yang akrab dan penuh sukacita. Beberapa jemaat Tuhan bahkan bersaksi bahwa dengan melayani, mereka telah belajar untuk menjadi rendah hati. Dalam bagian terakhir dari bukunya itu, Bill berkata: "Gereja dirancang sebagai organisasi relawan. Kuasa gereja muncul ketika setiap orang memberikan bakat mereka."
Nasihat agar jemaat dapat saling melayani sebenarnya telah diserukan oleh Rasul Petrus sejak ribuan tahun lalu. “Allah telah memberikan bakat-bakat khusus kepada Saudara masing-masing. Pergunakanlah bakat-bakat itu untuk saling menolong dan salurkanlah berkat Allah yang bermacam-macam itu kepada orang lain” (1 Pet. 4:10 FAYH). Kita harus menyadari bahwa kita diselamatkan oleh Tuhan, bukan hanya untuk rajin datang beribadah setiap minggunya, melainkan dapat ikut terlibat dalam pelayanan. Banyak hal yang kita bisa dapatkan saat saling melayani, seperti: kita dapat belajar untuk rendah hati, karakter kasih semakin bertumbuh, dan kehidupan pun akan terasa lebih berarti dan bermakna. Hari ini jika Tuhan masih memberikan kita kekuatan dan nafas hidup, mari gunakan itu untuk saling melayani. Mulailah segera terlibat dalam pelayanan dalam gereja, karena dengan demikian selain gereja lokal akan terlayani dengan baik, Anda sendiri pun akan semakin bertumbuh dalam iman.