Lilin atau Candle berasal dari bahasa Latin yaitu Cardere yang berarti kelap-kelip. Lilin digunakan sebagai alat penerang dengan cara dibakar. Sekecil apapun terang yang dihasilkan sebuah lilin, selalu dapat menerangi kegelapan di sekitarnya. Saat sebuah lilin menyala, ia dapat membagikan terangnya pada lilin-lilin lainnya. Hingga akhirnya, lilin tersebut habis terbakar dan padam, demi memberikan cahayanya untuk menerangi kegelapan. Natal selalu identik dengan lilin. Walaupun sebenarnya Alkitab tidak pernah mencatat korelasi antara lilin dan Natal. Namun demikian, lilin menjadi simbol bahwa Yesus telah lahir dan menjadi terang bagi dunia yang penuh kegelapan.
Firman Tuhan di dalam kitab Yohanes menuliskan bahwa terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya (Yoh. 1:5). Tuhan Yesus lahir ke dalam dunia untuk menerangi hati manusia dari kegelapan dunia. Hingga pada akhirnya mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Dan setiap orang yang menerima-Nya, diberikan kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yohanes 1:12). Saat kita menerima kehadiran Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka Dia akan diam di dalam kita dan hidup kita sudah seharusnya memancarkan cahaya kasih Kristus. Sama seperti Yesus yang lahir ke dalam dunia untuk menerangi dunia yang gelap, biarlah hidup kita menjadi seperti lilin-lilin Natal yang menerangi kegelapan di sekitar kita. Menjadi terang adalah memberi dampak bagi sekeliling kita. (DA)