“Bersyukur dahulu baru bahagia, bukan bahagia dahulu baru bersyukur.” Pernahkah Anda mendengar kalimat tersebut? Ya, kalimat bijak ini dapat dengan mudah ditemui di berbagai media sosial. Kalimat bijak ini sebenarnya ingin menjelaskan bahwa mengucap syukur seharusnya tidak tergantung pada keadaan dan suasana hati. Sudah menjadi rahasia umum, jika orang sering sulit mengucap syukur kepada Tuhan ketika sedang diperhadapkan pada banyak kesulitan, masalah, kesukaran atau kekurangan.
Jujur, memang bukan perkara mudah untuk mengucap syukur di tengah situasi yang tidak baik. Namun, kita dapat belajar menjadi pribadi yang bisa mengucap syukur dalam segala hal dari kehidupan rasul Paulus. Meski Paulus adalah seorang rasul Tuhan, dia banyak mengalami hal-hal yang dapat membuatnya sukar untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Mulai dari aniaya, mengalami penolakan, dipenjara karena Injil hingga kesulitan dalam hal materi. Meski demikian, Paulus selalu bersyukur, dia justru berkata, “hatinya semakin limpah dengan syukur kepada Allah yang Maha Baik” (Lih. 2 Kor. 4:15-17). Apa rahasia Paulus mampu bersyukur di segala keadaan? Jawabannya, karena dia sungguh-sungguh percaya akan kuasa dan kebaikan Allah. Mengucap syukur adalah tindakan ketaatan yang dikehendaki Allah (1 Tes. 5:18). Paulus adalah manusia biasa sama seperti kita, namun ia menjadi luar biasa ketika mentaati kehendak Tuhan. Hari ini, mari ambil waktu sejenak untuk bersyukur atas segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Percayalah, tidak ada situasi yang terlalu buruk yang tidak mungkin kita lalui bersama dengan Tuhan. Jika Tuhan pernah menolong kita di masa yang lalu, pasti Dia juga yang akan menjamin masa depan kita. (DF)