Di Natal yang pertama, Allah terus berkata, “Jangan takut” kepada beberapa orang. Zakharia dan Elisabet yang telah berpuluh-puluh tahun menanti kehadiran anak, mengalami perjumpaan dengan malaikat Tuhan yang berkata, "Jangan takut, hai Zakharia, karena doamu telah dikabulkan.... Engkau akan bersukacita” (Luk. 1:13-14). Maria adalah seorang wanita muda yang belum menikah, mengandung Mesias oleh kuasa Allah. Namun malaikat Tuhan menguatkan hatinya dengan berkata, “Jangan takut, karena engkau telah menerima kasih karunia dari Allah” (Luk. 1:30). Yusuf adalah seorang yang bermoral tinggi dan sangat dihormati, dan sekarang dia terjebak dalam konflik dengan keluarga dan teman-temannya. Namun, Tuhan berkata, "Jangan takut” untuk mengambil Maria dan bayinya, meskipun resiko ditolak dan dihakimi akan Yusuf alami (Mat. 1:18-25). Kepada para gembala di kota Betlehem, malaikat Tuhan berkata, "Jangan takut” karena Tuhan telah memilih mereka untuk menjadi pembawa berita kelahiran sang raja (Luk. 2:8-20).
Dalam Alkitab, ucapan Allah tentang “jangan takut” bukan hanya sekedar kata-kata penghiburan atau mengandung rasa simpati semata. Ucapan Allah ini mengandung arti, bahwa Tuhan hadir dan peduli dengan semua hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Dia berjanji ketika Dia hadir maka kita dipenuhi perasaan damai, ketenangan dan sukacita. Menjelang perayaan Natal kali ini mungkin ada diantara kita yang dipenuhi dengan ketakutan dan kekuatiran. Baik itu karena perasaan kecewa, rasa malu, konflik keluarga, stres menghadapi pergumulan hidup atau masalah-masalah lainnya. Namun dengarlah firman Allah berkata, “Jangan takut!” Sebab Dia ada dalam hidupmu sebagai Allah Imanuel, Allah yang senantiasa bersama kita sampai selamanya. Percayalah, jika Tuhan pernah menenangkan hati orang-orang di Natal yang pertama, bukankah Dia pun sanggup menenangkan hati dan pikiran Anda di Natal ini? Hanya pertanyaannya, sudahkah Anda mengimani firman ini dalam hati Anda? (DF)