Anjeze Gonxhe Bojaxhiu, atau akrab dipanggil Mother Teresa. Bunda Teresa adalah seorang tokoh dunia yang terkenal dengan kerendahan hatinya melayani sesama. Bunda Teresa mulai melayani pada tahun 1964 di daerah miskin di India, yakni Kalkuta. Kerendahan hati dan belas kasihnya selama 47 tahun melayani rakyat miskin Kalkuta menarik perhatian dunia. Pada tahun 1979, Bunda Teresa diberi penghargaan Nobel Perdamaian. Namun, hadiah uang sebesar 6.000 US dolar yang diperolehnya, disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Ia berkata, "Penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan." Hadiah tersebut memungkinkannya memberi makan ratusan orang selama setahun penuh.
Jauh sebelum Bunda Teresa mempraktikkan kasih kepada sesama, Tuhan kita Yesus Kristus telah melakukannya terlebih dahulu, dan jauh lebih hebat. Dia, Sang Raja alam semesta ini, namun melepaskan atribut kerajaan-Nya, memilih untuk dilahirkan di kandang yang hina, dan rela mati di atas kayu salib demi untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Penyangkalan diri serta kerelaan inilah yang menjadi perenungan kita di hari Natal ini. Natal bukan hanya sekedar mengingat kelahiran Sang Juru Selamat, tapi pesan Natal yang sesungguhnya adalah: jika Yesus Kristus saja, yang adalah Tuhan, mau turun ke dunia untuk melayani, sudah sepatutnya kita sebagai orang yang telah ditebus mau memberikan diri untuk melayani orang lain. Bila Tuhan masih mengijinkan kita untuk merayakan Natal, ini adalah kesempatan bagi kita untuk belajar merendahkan hati dan melayani sesama kita. Percayalah, jika kita mau melakukannya, Natal akan menjadi momen yang penuh berkat bagi kita. (DF)