Banyak orang yang berkata bahwa dirinya adalah orang yang setia. Tetapi seseorang belumlah sungguh-sungguh dapat dikatakan setia sebelum kesetiaannya melalui ujian. Kita semua mengenal Abraham sebagai Bapa orang beriman. Sebutan ini diberikan kepada Abraham bukan tanpa alasan. Kesetiaan adalah iman dalam perbuatan. Kesetiaan Abraham diuji oleh Tuhan ketika dia diperintahkan untuk mempersembahkan Ishak, anak satu-satunya, sebagai korban bakaran kepada Allah. Mendengar perintah Tuhan itu, hati Abraham hancur. Karena sebagai orang tua, tentu ia sangat mengasihi anaknya sekaligus menaruh harapan di masa yang akan datang. Bagi Anda yang sudah menjadi orang tua, pasti dapat merasakan apa yang dialami oleh Abraham saat itu. Tetapi Abraham taat dan setia. Dia menyiapkan semua yang diperlukan dan melakukan persis seperti yang diperintahkan oleh Tuhan. Dan sebelum Abraham menghujamkan pisaunya untuk menyembelih Ishak, malaikat Tuhan berseru menghentikan Abraham. Tuhan telah melihat bukti kesetiaan Abraham kepada-Nya.
Dari kisah Abraham ini, kita dapat belajar dua kebenaran penting. Pertama, kesetiaan diukur dari tindakan dan disertai dengan pengorbanan (ay. 10). Harga untuk menjaga kesetiaan kepada Tuhan itu mahal. Seringkali harus mengorbankan kesenangan, kenyamanan, atau sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita. Kedua, Tuhan menyediakan upah bagi orang yang setia kepada-Nya (ay. 16-17). Tuhan kita adalah Tuhan yang menghargai kesetiaan. Tuhan berjanji jika setia kepada-Nya, Ia akan memberkati kita berlimpah-limpah.
Bapa di sorga, kuatkanlah aku untuk tetap setia ketika ujian dan pencobaan menerpa hidupku. Celikkan mata hatiku untuk dapat melihat berkat besar yang Engkau janjikan bagi orang yang setia kepada-Mu.
Tingkatkan kepercayaan Anda kepada Tuhan saat merasa iman mulai goyah.