Ketidakmampuan memprediksi masa depan adalah salah satu misteri terbesar yang dihadapi manusia. Karena itulah, banyak orang akhirnya mengadopsi slogan "You Only Live Once" (YOLO). Slogan ini melahirkan prinsip hidup yang hanya berfokus pada hari ini, serta apa yang bisa dilihat dan dinikmati saat ini saja. Kondisi serupa melanda masyarakat Korintus kuno. Ketiadaan keyakinan akan kepastian hidup kekal membuat mereka terjebak dalam pengejaran hal-hal lahiriah seperti kekayaan, hikmat duniawi, dan status sosial. Cara hidup sekuler inilah yang sempat menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan spiritualitas jemaat di Korintus. Merespons krisis tersebut, Rasul Paulus menulis surat untuk meneguhkan iman mereka akan kepastian janji Allah, yaitu hidup kekal melalui penebusan Yesus Kristus. Paulus memberikan teladan bahwa kehidupan iman sejati bertumpu pada apa yang dipercayai, bukan apa yang dilihat (2 Kor. 5:7). Ia mendorong jemaat untuk mengalihkan pandangan pada hal-hal rohani yang tidak kelihatan namun bernilai kekal. Caranya adalah dengan menjalani hidup yang berkenan kepada Allah selama mereka masih mendiami tubuh fana ini.
Demikian juga dengan kita jemaat Kristen masa kini yang kerap diombang-ambingkan oleh ketidakpastian. Kita dipanggil untuk menumbuhkan iman yang melampaui segala tantangan yang kita saksikan atau hadapi saat ini. Lihat dan teladani Abraham, yang sekalipun menyadari tubuhnya telah menua dan rahim istrinya mandul, ia memilih untuk tetap mempercayai janji Allah bahwa ia akan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Mari kita jalani anugerah kehidupan ini dengan iman yang teguh. Percayalah bahwa Tuhan Yesus akan menyertai kita sampai akhir zaman, hingga kita menikmati persekutuan yang kekal bersama-Nya di dalam Kerajaan Allah. [AP]