Resolusi adalah sebuah kata yang sering muncul di awal tahun seperti ini. Banyak orang yang membuat sebuah komitmen baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun yang baru. Tentu saja ini adalah sebuah kebiasaan yang baik untuk dilakukan. Tetapi pertanyaannya, berapa besar tingkat pencapaian resolusi yang Anda tetapkan? Richard Wiseman dari Universitas Bristol melakukan riset melibatkan 3.000 responden pada tahun 2007. Hasil risetnya menunjukkan bahwa 52% responden merasa yakin pada awalnya bahwa mereka akan berhasil mewujudkan resolusi mereka. Namun, ternyata 88% dari seluruh responden, gagal mewujudkannya. Sekarang, berapa banyak di antara kita yang bisa dengan mantap berkata bahwa saya yakin 100% pasti dapat mewujudkan resolusi yang saya buat di awal tahun 2017 yang lalu? Ya, tidak banyak bukan?
Membuat perencanaan untuk dilakukan di masa depan adalah hal yang baik. Namun, Firman Allah mengingatkan kita akan satu hal: Jangan lupa untuk mengikutsertakan Tuhan di dalamnya. Mengapa demikian? Karena kita sama sekali tidak memiliki kuasa atas masa depan. Hidup kita sama seperti uap yang dapat hilang dalam sekejap. Tidak melibatkan Tuhan dalam perencanaan akan menjadikan kita seorang yang congkak (Yak. 5:16). Kita merasa berkuasa atas hidup kita. Tidak ada yang salah dengan membuat resolusi di Tahun Baru ini. Namun kita harus ingat prinsip, “Jika Tuhan menghendakinya.” Ini tidak berfungsi sebagai pemanis kata-kata, supaya terkesan rohani. Ketika mengucapkannya, kita harus memiliki sikap yang sungguh-sungguh berserah dan mengizinkan kehendak Tuhan dinyatakan melalui perencanaan kita. Dengan melibatkan Tuhan, kita akan serius dengan resolusi atau komitmen yang kita buat. Kalau pun kita tidak membuat resolusi tertentu, itu tak jadi soal. Yang penting kita selalu melibatkan Tuhan dalam memasuki tahun yang baru ini dan berjalan dalam tuntunan-Nya. (FD)