Baik disadari atau tidak, kita sering menghitung kesalahan orang lain kepada kita. Ketika seseorang menyakiti hati kita, kita mudah mengingat setiap perkataan dan perbuatannya, bahkan menyimpan luka itu dalam waktu yang lama. Tidak sedikit orang memendam kepahitan, atau diam-diam menunggu kesempatan untuk membalas. Sikap seperti ini menunjukkan bahwa hati kita masih sulit memberikan pengampunan. Masalahnya, ketika kita begitu sibuk menghitung kesalahan orang lain, kita bisa lupa bahwa hidup kita sendiri berdiri di atas pengampunan Allah.
Melalui perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasihan, Yesus menyingkapkan ironi seorang hamba yang telah menerima pengampunan atas utang yang tidak sanggup ia lunasi, tetapi tidak bersedia mengampuni utang sesamanya yang jauh lebih kecil. Melalui kisah ini, Yesus mengingatkan kita agar sungguh-sungguh menyadari besarnya pengampunan dan belas kasihan Allah yang telah kita terima. Di hadapan Allah, kita semua adalah orang berdosa yang tidak sanggup melunasi utang dosa kita. Upah dosa adalah maut, dan tidak ada satu pun perbuatan baik yang dapat membebaskan kita dari hukuman dosa. Namun, karena kasih-Nya yang besar, Allah mengutus Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, setiap orang yang percaya kepada-Nya menerima pengampunan dosa, diperdamaikan dengan Allah, dan memperoleh hidup yang baru (Rm. 5:8). Ini bukan berarti luka yang kita alami tidak nyata atau tidak menyakitkan. Namun, ketika kita memandang besarnya belas kasihan Allah bagi kita, kita akan dimampukan untuk melepaskan kepahitan dan memilih mengampuni, sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita. Karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan dengan membawa setiap luka, kepahitan, bahkan dendam, yang mungkin masih kita pendam. Mintalah Roh Kudus memulihkan hati kita dan memampukan kita untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Semakin kita mengingat besarnya pengampunan yang telah kita terima di dalam Kristus, semakin kita dibebaskan dari belenggu kepahitan dan dimampukan menikmati damai sejahtera yang Tuhan anugerahkan. Kiranya melalui hidup kita, orang-orang di sekitar kita semakin merasakan kasih dan pengampunan Kristus. [MJ]