Banyak orang ingin berubah menjadi lebih baik. Tapi pernahkah kita merenungkan mengapa perubahan itu begitu sulit terjadi? Kita mungkin berhasil mengendalikan perkataan tanpa benar-benar membuang kesombongan dalam hati, atau kita mungkin berhasil tampak saleh di depan orang lain sementara hati masih dipenuhi iri hati dan dengki. Dunia menawarkan banyak cara untuk memperbaiki diri, tetapi tidak ada yang mampu menciptakan hati yang baru.
Inilah yang membedakan Injil dari sekadar moralitas. Dalam 2 Korintus 3, Paulus membandingkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Hukum Taurat itu kudus dan baik karena menyatakan karakter Allah serta standar kekudusan-Nya. Namun, hukum tidak diberikan untuk mengubah hati manusia, melainkan untuk menyatakan dosa dan kebutuhan manusia akan anugerah Allah. Melalui karya Kristus dan kehadiran Roh Kudus, Allah mengerjakan pembaruan dari dalam diri kita. Karena itu Paulus berkata, "Di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan." Kemerdekaan yang dimaksud bukanlah kebebasan untuk hidup sesuka hati, melainkan kebebasan dari kuasa dosa yang selama ini mengikat kehendak manusia. Roh Kudus bekerja di dalam diri kita agar kita mampu mengasihi Allah, menaati firman-Nya, dan menikmati hidup sesuai tujuan-Nya. Yang menarik, Paulus tidak berhenti pada kata "merdeka". Pada ayat berikutnya, ia langsung berbicara tentang "diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya". Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir; kemerdekaan adalah awal dari proses Allah membentuk kita semakin serupa dengan Kristus. Semakin kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus, semakin karakter Kristus terlihat dalam hidup kita. Ia membarui cara kita berpikir, cara kita merespons penderitaan, serta cara kita memperlakukan pasangan, rekan kerja, bahkan orang yang menyakiti kita. Perubahan ini bukan hasil kemauan manusia semata, melainkan karya Roh Kudus yang terus membentuk orang percaya. Inilah proses seumur hidup di mana Allah membentuk umat-Nya menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya. Jadi, kebebasan Kristen berarti dibebaskan dari dosa, dan dibebaskan untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Jangan berleha-leha karena merasa sudah "bebas". Kebebasan Kristen merupakan kebebasan untuk berkata "ya" kepada Allah dan "tidak" kepada dosa. Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan mengikuti keinginan daging atau menaati pimpinan Roh Kudus. Ketika kita memilih mengampuni daripada membalas, berkata jujur daripada menipu, mengasihi daripada mementingkan diri sendiri, kita sedang menikmati kebebasan yang Kristus berikan. Semakin kita berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, semakin hidup kita dipulihkan menjadi serupa dengan Kristus. [LS]