Kita semua memiliki pengalaman menanti sesuatu yang Tuhan janjikan. Ada penantian-penantian yang begitu lama, hingga muncul pertanyaan dalam benak kita, "Benarkah Tuhan akan melakukannya?", "Mengapa situasinya makin bertentangan dengan janji-Nya?" Apapun yang sedang Anda nantikan, ketahuilah bahwa penantian sering kali menguji seberapa dalam kita mengenal Pribadi yang memberikan janji itu.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, Allah meneguhkan kembali perjanjian-Nya dengan Abraham dan menegaskan janji-Nya tentang keturunan serta tanah yang akan diberikan kepadanya. Seiring berjalannya waktu, nyatanya janji itu tidak menjadi lebih mudah untuk dipercaya. Keadaan Abraham dan Sarah membuat janji tersebut semakin tampak mustahil. Namun, Abraham belajar bahwa iman tidak berdiri di atas apa yang dapat dilihatnya, melainkan di atas Pribadi yang telah berfirman (Rm. 4:18-21). Ia menantikan penggenapan janji Allah bukan karena ia mengetahui kapan dan bagaimana semuanya akan terjadi, tetapi karena ia mengenal Allah yang memberikan janji itu (Ibr. 11:11). Sebab, Allah yang berjanji adalah Allah yang setia. Mungkin hari ini Anda sedang menanti sesuatu yang Tuhan janjikan. Anda belum melihat jawabannya. Keadaan bahkan mungkin membuat Anda mulai bertanya-tanya apakah Anda masih dapat berharap. Namun, ingatlah, ketika mata kita tidak dapat melihat jalan di depan, iman mengarahkan kita kembali kepada Pribadi yang telah berfirman. Kita tidak selalu tahu kapan janji-Nya digenapi, tetapi kita tahu siapa yang memegang masa depan kita. Karena itu, jangan biarkan panjangnya penantian membuat Anda berpaling. Tetaplah percaya, tetaplah mengasihi Tuhan, dan tetaplah berpegang pada firman-Nya. Sebab pengharapan kita dibangun di atas kepastian tentang siapa Allah itu. [JW]