October 2017 / PENGANTAR KITAB AMSAL

Olive Tree Bible Overview

Ikhtisar
Kumpulan dari ayat-ayat dalam kitab Amsal menekankan pada kebenaran dan takut akan Allah sebagai sumber hikmat. Paralelisme dalam puisi-puisi orang Yahudi yang biasanya mengikuti struktur 2 baris ayat diikuti di sepanjang kitab Amsal dalam berbagai macam bentuk, seringkali memberikan kontras antara kebijaksanaan dan kebodohan. Kitab Amsal tidak menyampaikan tuntunan atau perintah Allah secara eksplisit, namun lebih merupakan pelajaran yang diambil dari pengalaman hidup manusia. Para penulis kitab dan para guru kemungkinan besar membuat suntingan terakhir dari kitab Amsal ini di abad kelima sampai abad ketiga sebelum Masehi.

Tidak seperti kitab-kitab sejarah yang sebelumnya, Kitab-kitab Puisi dan Hikmat ini tidak bercerita tentang bangsa Israel. Kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung merupakan contoh dari puisi-puisi bangsa Yahudi dan literatur kebijaksanaan dari Timur Tengah kuno. Kitab-kitab tersebut menggali pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan manusia, nasihat praktis tentang kehidupan, dan mengenai inti dari pengalaman dan emosi manusia. Kitab-kitab hikmat ini mencakup topik-topik yang lengkap, mulai dari masalah kejahatan sampai pada hidup yang benar, dari kesia-siaan harta duniawi sampai penyediaan Tuhan. Kitab Puisi dan Kebijaksanaan ini mencerminkan kehidupan orang percaya yang masih berlaku beribu-ribu tahun setelah kitab-kitab tersebut ditulis.


Karakter-Karakter Utama

Ayat pertama dari kitab Amsal mencantumkan raja Salomo, yang terkenal akan hikmat dan pengertian dari Allah, sebagai penulis dari kitab ini (1 Raja-Raja 4:29-34). Tetapi, para penulis yang sebenarnya mengumpulkan ayat-ayat tersebut mungkin saja memberikan kehormatan kepada Salomo sebagai penulisnya. Judul dari pasal-pasal dalam kitab Amsal ini juga menyebutkan para penulis tersebut sebagai “orang bijak”, dan seorang yang bukan berkebangsaan Israel bernama Agur bin Yake serta Raja Lemuel, yang tidak muncul dalam bagian Alkitab lainnya.

Salomo memerintah selama masa puncak kejayaan dari kekuasaan dan kemakmuran bangsa Israel. Keberhasilan Daud dalam perang telah mengamankan kekuasaan Salomo dari ancaman musuh di sepanjang kehidupannya. Ia menyalurkan energi bangsanya yang selama ini digunakan untuk berperang, kini untuk membangun kerajaan yang besar melalui perdagangan dan perjanjian damai dengan bangsa-bangsa lain. Di awal masa pemerintahan Salomo, Allah mengunjunginya dalam mimpi dan memberikan kepadanya kebijaksanaan, juga kehormatan, kekayaan, dan umur yang panjang. Kebijaksanaan Salomo terkenal di seluruh negeri, sehingga raja-raja lain meminta nasihatnya dan memberikan hadiah-hadiah yang hebat sebagai balasannya. Mengikuti tulisan-tulisan ayahnya, raja Daud, Salomo menerapkan kebijaksanaannya untuk menulis 3.000 amsal dan 1.005 lagu (1 Raja-Raja 4:32). Tradisi orang Yahudi dan Kristen menetapkan Salomo sebagai penulis kitab Kidung Agung dan Pengkhotbah, sebagai tambahan bagi hikmat-hikmat di dalam kitab Amsal.

Mengetahui warisan Salomo yang begitu agung, para penulis di masa pemerintahan raja Hizkia mengumpulkan tulisan-tulisan yang mungkin telah ditulis Salomo atau dalam gaya puisi yang ditulisnya. Penekanan pada kebenaran dan nilai-nilai kebijaksanaan dalam tulisan-tulisan tersebut sesuai dengan usaha raja Hizkia untuk membangun kembali penyembahan yang benar kepada Allah di Yudea. Saat itu orang-orang Israel terus melakukan penyembahan di tempat-tempat tinggi seperti di puncak-puncak gunung mengikuti kepercayaan yang ada di Kanaan sebelum bangsa Israel menguasai tanah itu, walaupun hal tersebut sesungguhnya bertentangan dengan perintah Allah untuk beribadah di Bait Suci di Yerusalem. Hizkia menghancurkan tempat-tempat penyembahan di tempat-tempat tinggi dan patung ular tembaga yang dibuat Musa karena orang-orang Israel menyembah patung itu.


Nilai dari Kebijaksanaan

Dalam menjelaskan jalan kebijaksanaan dan hikmat, kitab Amsal menekankan pada standar nilai-nilai yang tinggi, seperti kemurnian, kerajinan, keberanian, kejujuran, penguasaan diri, kebebasan, dan kebaikan. Kitab Amsal mencerminkan hikmat dan kebenaran yang menguntungkan diri sendiri sekaligus menghormati Allah. Aturan umum bahwa hal yang baik akan datang kepada orang yang baik, muncul seperti pengajaran dari teman-teman Ayub, yang berpendapat Allah hanya mengutuk orang yang jahat.

Budaya kuno menghormati penggunaan hikmat bijaksana, bahkan menerapkan ayat-ayat tersebut sebagai penghinaan kepada musuh (1 Raja-Raja 20:11; Yesaya 14:4; Habakuk 2:6). Selama pemerintahan Salomo, raja-raja dari negara lain berkunjung ke Israel dan menawarkan hadiah yang besar agar mereka dapat mendengarkan kebijaksanaan Salomo. Kitab Amsal menulis nilai dari kepandaian dan logika yang membedakan antara hikmat kebijaksanaan praktis dan kebodohan. Nilai ini bertahan melampaui zaman, karena Perjanjian Baru mengutip kitab Amsal tidak kurang dari 35 kali. Kitab Yakobus mengikuti struktur puisi dari tulisan Salomo, dan Yesus sendiri menggunakan amsal-amsal dan gaya penyampaian hikmat ini dalam pengajaran-pengajaran-Nya (Lukas 6:27-38 ; Lukas 14:8-10).(EH)

©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com