Valetta merasa sangat bangga karena ia terpilih menjadi tokoh utama dalam drama di gereja. Ia akan berperan sebagai putri cantik yang menari dan menyanyi di atas panggung. Dalam hatinya, Valetta sombong dan berpikir bahwa drama itu tidak akan bisa berjalan tanpanya. Namun, tepat sebelum acara dimulai, gaun Valetta tiba-tiba rusak! Ia mulai panik karena tidak mungkin tampil dengan gaun yang sobek. Untungnya, ada Joey dari tim kostum yang dengan sigap segera menjahit gaun Valetta. Akhirnya, drama pun berjalan dengan lancar dan sukses. Kejadian itu menyadarkan Valetta bahwa keberhasilan acara tersebut bukan hanya karena dirinya. Ada Joey yang hebat menjahit meskipun tidak pandai bernyanyi, ada teman-teman yang menyusun acara, mendesain poster, menyambut jemaat, hingga tim yang menyiapkan makanan. Valetta sadar bahwa setiap orang punya peran penting, dan ia pun segera meminta maaf kepada Tuhan atas kesombongannya.
Kisah Valetta mengingatkan kita pada pesan Rasul Paulus dalam Roma 12:4-8. Di sana dijelaskan bahwa kita semua adalah anggota Tubuh Kristus. Sama seperti tubuh manusia, tidak ada anggota yang lebih penting atau kurang penting. Mata tidak bisa bekerja tanpa kaki, dan tangan tidak bisa bekerja tanpa telinga. Begitu juga di gereja; setiap kita diberikan karunia atau kemampuan yang berbeda-beda oleh Tuhan untuk saling melengkapi. Mungkin tugasmu terlihat kecil, seperti membantu menjaga kebersihan kelas, menyusun kursi, atau mengantar adik ke toilet. Namun, jika dilakukan dengan sepenuh hati, itu adalah pelayanan yang sangat berharga di mata Tuhan. Apa pun peranmu, baik itu menjadi pemimpin di depan atau melayani di belakang layar, lakukanlah dengan yang terbaik sebagai bagian dari satu keluarga Allah. [HJ]