Frans adalah siswa kelas 6 yang sangat cerdas. Nilai-nilainya selalu memuaskan dan ia sangat cepat menangkap pelajaran di sekolah. Namun, ada satu hal yang membuat teman-teman dan gurunya sedih. Frans sering menjawab dengan nada tinggi saat ditegur dan ia mudah sekali marah jika ada teman yang berbeda pendapat dengannya. Frans merasa bahwa karena ia pintar, pendapatnya pasti selalu yang paling benar. Suatu sore, Mama mengajak Frans untuk duduk bersama dan membaca Alkitab. Frans mengeluh karena merasa sudah cukup lelah belajar di sekolah. Ia bertanya kepada Mama mengapa ia masih harus membaca Alkitab lagi. Dengan lembut, Mama menjelaskan bahwa ilmu di sekolah memang membuat Frans menjadi pintar, tetapi firman Tuhanlah yang akan membentuk Frans menjadi anak yang bijaksana. Pintar itu tentang pengetahuan di otak, tetapi bijaksana adalah tentang bagaimana kita bersikap sesuai dengan keinginan Tuhan. Sejak saat itu, Frans mulai rajin membaca Alkitab dan perlahan-lahan karakternya berubah. Ia belajar berbicara lebih lembut dan lebih menghargai orang lain.
Kisah Frans ini mengingatkan kita pada Tuhan Yesus saat Ia berusia dua belas tahun. Dalam Lukas 2:46-52, diceritakan bahwa Yesus berada di Bait Allah, duduk di tengah-tengah para guru agama yang hebat. Meskipun Ia adalah Anak Allah, Yesus tetap mau duduk mendengarkan, bertanya, dan belajar. Orang-orang di sana sangat kagum melihat betapa bijaksananya Yesus di usia yang masih sangat muda. Kepintaran saja ternyata tidak cukup. Kita butuh hikmat dari Tuhan agar kepintaran kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan Yesus memberikan teladan bahwa untuk menjadi bijaksana, kita harus rindu belajar firman Tuhan dan hidup dalam ketaatan. Mari kita rajin membaca Alkitab supaya kita tidak hanya tumbuh menjadi anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang indah dan sikap yang benar di hadapan Tuhan. [TS]