Karakter manusia adalah kombinasi kompleks antara faktor genetik dan faktor pembentukan lingkungan, pendidikan, pengalaman, serta pilihan. Meski ada kecenderungan bawaan; lingkungan dan pembelajaran membentuk lebih banyak bagaimana sifat manusia diwujudkan menjadi perilaku nyata yang dinamis hingga menjadi tabiat atau watak (karakter). Ini sebabnya keluarga memegang peran vital dalam membentuk karakter, keluarga-lah yang pertama kali mengajarkan nilai moral dan etika yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Sayangnya, banyak dari kita yang tanpa sadar telah mengalihkan fokus pembentukan karakter kepada sekolah formal, gereja, atau kursus pengembangan diri, sementara unsur terpenting pembentukan karakter ada di rumah. Sekolah formal mengajarkan kompetensi, tetapi rumahlah yang membentuk ketekunan, integritas, empati, kesabaran, kerendahan hati, dan kasih sejati. Alkitab telah menggambarkan fungsi rumah sebagai tempat dimana nilai-nilai hidup ditanamkan dan diperagakan. Allah memerintahkan umat-Nya, "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu â€Â¦". Ayat ini bukan sekadar pengajaran teori, ayat ini berbicara tentang hidup bersama dalam keteladanan yang terus menerus. Saat duduk, saat di perjalanan, saat berdiskusi, bahkan saat berselisih paham. Tuhan menghendaki rumah kita menjadi tempat di mana nilai-nilai Tuhan hidup; bukan hanya diajarkan secara pasif, tetapi dilihat, dirasakan, dan dijalani. Proses pembentukan karakter bukanlah aktivitas sampingan keluarga, tetapi tanggung jawab yang disengaja. Anak bukan hanya diajak ke gereja; tetapi juga dibimbing di meja makan untuk tidak menjadi rakus, dilatih di ruang utilitas untuk bertanggung jawab atas piring makan atau baju kotor mereka, diajar di ruang tamu untuk menyelesaikan konflik, berkata jujur, dan saling menghormati, dan diajar di kamar untuk berdoa, membaca firman, dan meminta maaf saat melakukan kesalahan sebelum hari itu berakhir. Mari kita jadikan rumah sebagai sekolah karakter – tempat dimana nilai-nilai iman Kristen ditanamkan dan diuji, sehingga apa yang kita hidupi di rumah menunjang kualitas sikap, perkataan, dan tindakan kita di luar rumah. [LS]