December 2018 / LACTOSE INTOLERANT

Pernahkah Anda meminum segelas minuman yang mengandung susu dan tidak lama setelahnya Anda mengalami diare, perut bergemuruh dan kembung, atau sering buang angin? Jika ya, Anda kemungkinan memiliki kondisi yang disebut intoleransi laktosa. Anda tidak perlu khawatir karena intoleransi laktosa bukanlah sebuah penyakit. Kondisi ini merupakan gangguan pencernaan yang dimiliki oleh hampir 65% populasi di dunia.

Intoleransi laktosa atau yang dalam bahasa Inggris disebut lactose intolerant adalah gangguan pencernaan di mana seseorang tidak mampu mencerna laktosa dengan sempurna akibat kekurangan enzim lactase. Laktosa adalah jenis gula yang lazim ditemui dalam susu dan produk turunannya seperti mentega, keju, yogurt, dan es krim. Enzim lactase bertugas untuk memecah laktosa menjadi gula yang lebih sederhana agar bisa dengan lebih mudah diserap tubuh.

Karena enzim laktasenya tidak cukup, laktosa yang masuk ke usus kecil tidak semuanya dapat tercerna. Laktosa yang tidak tercerna ini kemudian masuk ke dalam usus besar lalu terfermentasi oleh bakteri, sehingga dalam kurun waktu 30 menit hingga 2 jam setelah dikonsumsi, muncul gejala-gejala seperti kembung, mual, sakit perut, diare, atau sering buang angin.

Karena intoleransi laktosa bukanlah sebuah penyakit, kondisi ini tidak memerlukan pengobatan khusus. Orang yang memiliki intoleransi laktosa cukup mengontrol asupan laktosa saja, dan ini  bukan berarti menjadi pantang mengkonsumsi produk susu sama sekali karena intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu.

Alergi susu adalah keadaan di mana tubuh seseorang memiliki alergi terhadap kandungan protein yang terdapat dalam susu. Berbeda dengan intoleransi laktosa, di mana tubuh tidak dapat mentolerir lakstosa dalam susu. Reaksi tubuh yang dihasilkan pun berbeda. Reaksi tubuh pada kasus alergi susu biasanya muncul dengan cepat dan dalam beberapa kasus yang cukup parah terkadang dapat berpotensi untuk mengancam jiwa. Tidak sampai 30 menit, reaksi alergi akan langsung muncul seperti ruam, gatal-gatal, kram perut, diare, bengkak, sesak nafas dan muntah-muntah. Reaksi lactose intolerant tidak separah alergi susu. Reaksi yang terjadi hanya sebatas ketikdaknyamanan di area perut dan muncul setidaknya 30 menit setelah mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktose.

Mengapa seseorang memiliki intoleransi terhadap laktosa? Dalam beberapa kasus, ada bayi yang sejak lahir sudah lactose intolerant karena tubuhnya tidak bisa menghasilkan laktase sama sekali atau mengalami penyakit kelainan pada usus sehingga produksi laktsenya tidak mencukupi. Namun pada kebanyakan kasus, orang yang lactose intolerant dulunya pernah dapat mencerna laktosa dengan sempurna. Dengan seiring pertambahan usia, kemampuan tubuhnya untuk memproduksi laktase makin menurun. 

Walaupun intoleransi laktosa bukanlah sebuah penyakit, sehingga tidak memerlukan pengobatan, untuk dapat menghindari gejala-gejala yang tidak nyaman, Anda sebaiknya mengetahui jumlah laktosa yang aman untuk Anda konsumsi. Susu dan produk turunannya merupakan sumber kalsium dan vitamin D. Dengan membatasi konsumsi susu dan produk turunannya karena intoleransi laktosa, Anda akan memiliki resiko kekurangan kalsium dan vitamin D. Untuk mencegah resiko ini, Anda dapat dengan rutin meminum pil kalsium, pil vitamin D, dan mengkonsumsi makanan tinggi kalsium seperti udang, brokoli dan sayuran hijau.

Lactose intolerant biasanya dapat Anda idiagnosa sendiri. Jika Anda selalu mengalami gangguan pencernaan setelah mengkonsumsi susu dan produk olahannya dalam jumlah banyak, kemungkinan besar Anda adalah orang yang memiliki intoleransi laktosa. Namun untuk lebih pasti, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter yang dapat menetapkan apakah Anda benar lactose intolerant melalui serangkaian tes laboratorium. [EV]

©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com