September 2018 / BISNIS SHARING

Uber, sebuah nama yang familiar diantara para pengguna angkutan transportasi online, telah resmi menghentikan pengoperasiannya di Indonesia terhitung sejak bulan April  2018. Sebelumnya Uber juga melakukan hal serupa di beberapa negara Asia tenggara seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Sekarang perusahaan asal Amerika Serikat ini dikabarkan berencana untuk beralih ke bisnis rental sepeda berbasis aplikasi atau yang lebih dikenal dengan istilah bike sharing.

Bisnis rental sepeda maupun alat transportasi lainnya sebenarnya sudah lama ada, namun yang menggunakan sistem berbasis aplikasi baru bermunculan beberapa tahun belakangan ini seiring dengan perkembangan teknologi. Bike sharing berbasis aplikasi telah berjalan cukup lama di negara lain, terutama di negara yang penggunaan sepeda sebagai moda transportasi cukup tinggi seperti di China, Prancis, Inggris dan Singapura. Di Indonesia bike sharing berbasis aplikasi juga sudah mulai beroperasi di kota Surabaya walaupun menurut pantauan media setempat animo masyarakat belum terlalu tinggi.

Tidak berhenti di bike sharing saja, bisnis sharing via aplikasi sekarang makin merambah ke barang kebutuhan lainnya seperti powerbank. Di sebuah sudut mal di daerah Tangerang Selatan sekarang sudah tersedia mesin penyewaan powerbank berbasis aplikasi. Sistem yang digunakan tidak jauh berbeda dengan bike sharing. Pengguna harus terlebih dahulu mengunduh aplikasi yang bersangkutan, membuat akun, dan mengisi saldo yang secara otomatis akan berkurang setiap kali terjadi transaksi penyewaan powerbank. 

Dengan adanya bisnis sharing ini, konsumen sebenarnya diuntungkan karena konsumen tidak perlu merogoh kocek pribadi untuk membeli barang-barang tersebut. Keuntungan lainnya adalah konsumen tidak perlu dibebani dengan beragam biaya seperti perawatan, perbaikan, dan lain-lain. Biaya penyewaan cenderung sangat terjangkau. Untuk penyewaan powerbank yang telah disebutkan diatas contohnya, konsumen hanya dikenakan biaya sebesar 10 ribu per hari. Bahkan pengguna baru bisa mendapatkan gratis penyewaan sebanyak dua kali selama masa promosi. Keuntungan lain bagi konsumen adalah mudahnya akses untuk menyewa dan mengembalikan barang. Perusahaan rental ini rata-rata menyasar tempat umum yang stategis.  Bike sharing bisa ditemukan di stasiun, pusat perkantoran, dan tempat wisata. Sedangkan powerbank sharing bisa ditemukan di pusat keramaian seperti mal, kampus, kafe dan bandara.

Perusahaan-perusahaan yang terjun ke dalam bisnis sharing berbasis aplikasi memiliki tujuan mereka sendiri-sendiri. Tetapi umumnya mereka ingin memberikan kemudahan bagi konsumen di samping alasan lain seperti menjaga kelestarian lingkungan. Menurut CEO Uber, Dara Khosrowshahi, Uber ingin menjalankan bisnis bike sharing karena menurutnya selama rush hour, penggunaan kendaraan roda empat hanya akan memperparah kemacetan. Bedasarkan pengamatan tersebut, Uber mulai serius menggarap bike sharing untuk mengakomodir pelanggan agar bisa menembus kemacetan dengan tranportasi yang terjangkau. Selain demi alasan efisiensi, Uber juga ingin membantu mengurangi masalah polusi udara yang berasal dari asap kendaraan bermotor yang banyak melanda kota-kota besar.

Walaupun bisnis-bisnis ini lebih condong berpihak kepada konsumen, nyatanya ada beberapa bisnis sharing yang gagal bertahan seperti contohnya payung dan bola basket. Ada juga beberapa perusahaan bike sharing yang terpaksa gulung tikar. Kendala yang paling sering dihadapi adalah penggunaan yang tidak bertanggung jawab dan kelalaian dalam mengembalikan barang sewaan ke tempat yang seharusnya. Tidak semua konsumen memiliki kesadaran dan tanggung-jawab yang cukup untuk menjaga benda yang disewa dengan baik. 

Hal lain yang memberatkan perusahaan sharing adalah ketimpangan antara biaya penalti yang dibebankan untuk barang yang lalai dikembalikan ataupun dikembalikan dalam keadaan rusak dengan modal yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Biaya sewa yang sangat terjangkau, memang menarik bagi konsumen, namun digadang sulit bagi perusahaan untuk mendapatkan untung.

Bisnis sharing ini juga seringkali terhalang ijin oleh pemerintah setempat terkait lokasi beroperasi khususnya bagi bisnis yang membutuhkan area besar seperti area penyewaan dan pengembalian payung dan area docking sepeda.

Karena bisnis sharing ini cenderung sangat berpihak pada konsumen, resiko yang ditanggung konsumen relatif jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan penyedia. Agar bisnis sharing semacam ini dapat bertahan, pihak konsumen sepatutnya membiasakan diri untuk menjadi pengguna yang bertanggung jawab. Alangkah indah jika segenap manusia bisa saling berbagi.  Sharing is caring. [EV]

©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com