July 2018 / PURE CONSCIENCE

Hati nurani adalah panduan dalam diri seseorang akan hal yang benar dan yang salah. Hati nurani melihat kebenaran sesuai yang ditetapkan diri orang tersebut sehingga hati nurani setiap orang berbeda. Sebagai sebagai orang percaya, hati nurani kita harus selalu merujuk kepada Allah yang sempurna. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menjaga hati nurani kita sesuai murni di hadapan Allah dan manusia (Kisah Rasul 24:16).

Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Untuk dapat hidup berkenan, roh dan pikiran kita perlu diperbaharui (Efesus 4:23). Kita memiliki kemampuan untuk berjalan dengan hati nurani yang murni karena darah Kristus telah menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia (Ibrani 9:14).

Hati nurani kita perlu untuk dididik. Pengetahuan akan kebenaran Allah dan Firman Alah merupakan dasar agar hati nurani dapat memberikan panduan yang jelas dan dapat diandalkan. Seringkali hati nurani bercampur dengan perasaan sehingga dapat menuduh kita dan menyebabkan depresi. Jangan biarkan hati nurani kita dipandu dengan perasaan. Jika hati nurani mulai mengganggu, selidiki dan periksa dengan Firman Allah.

Mengaku dosa merupakan salah satu langkah untuk memiliki hati nurani yang murni. Karena jika kita mengaku dosa kita, Ia adalah setia dan adil sehingga Ia mengampuni dosa kita dan meyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yohanes 1:9). Akui dosa kepada Allah seperti yang ditulis Daud dalam Mazmur 32:5.

Kita harus segera membereskan masalah hati nurani dengan berdoa untuk mencari hati Bapa, berdamai dan mengampuni, seperti yang tertulis dalam Matius 5:24. Juga tertulis dalam Matius 6:14, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.”

Dalam melayani, hati nurani yang murni berarti kita hanya menginginkan Allah. Pelayanan yang berhasil belum tentu disertai dengan hati nurani yang murni. Tidak sedikit pelayan Tuhan tiba-tiba menyadari jika pelayanan mereka telah menggantikan posisi Allah dalam hati mereka. Hati nurani kita tidak lagi murni, jika kita mulai mementingkan hal-hal dalam pelayanan itu sendiri.

Dalam hal berdoa pun, hati nurani kita harus murni. Saat kita mulai mengikut Allah, kita mungkin mendoakan banyak hal dan Allah menjawab semua permintaan kita. Tetapi lambat laun kita tidak lagi berani meminta karena kita harus mencari kehendak Allah. Seperti halnya ketika kita masih anak-anak, dan kita akan banyak meminta pada orang tua kita, dan mereka biasanya memenuhi permintaan kita karena kita diaanggap masih kecil. Pada saat kita mulai bertumbuh kita tidak lagi akan berdoa untuk meminta-minta kepada Allah. Saat Allah tidak menjawab doa, kita tidak lagi mengeluh. Tetapi kita akan selalu mengucap syukur karena kita tahu Allah memiliki rencana bagi kehidupan kita. Bagian kita adalah memiliki hati nurani yang murni untuk dapat berdoa dan melayani Dia. (EH)

©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com