June 2018 / AGILE WORKING

Selama beberapa dekade terakhir, definisi bekerja dari kebanyakan orang adalah bangun pagi, berangkat ke tempat kerja bersamaan dengan para pekerja lain saat rush hour, melakukan kegiatan di area kerja yang sudah ditentukan oleh perusahaan, baik itu dalam ruangan tersendiri maupun area bersekat, atau menghabiskan waktu dalam ruang meeting yang kaku, sehingga ruang pantry menjadi satu-satunya destinasi untuk refreshing sejenak dari kepenatan, dan meninggalkan kantor ketika hari sudah sore atau bahkan malam.

Budaya bekerja konvensional seperti ini walaupun masih banyak diterapkan di masyarakat sekarang namun mulai perlahan digeser. Beberapa tahun belakangan ini, perusahaan-perusahaan global mulai mereformasi lingkungan dan budaya kerja mereka. Sebut saja Google dan PwC, dua perusahaan raksasa ini terus berinovasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan bagi para karyawannya. Ruang meeting yang dahulu sangat kaku dibuat terbuka tanpa dinding dan pintu, area bekerja pun dirancang sedemikian rupa sehingga tidak sekaku perkantoran pada umumnya. Perubahan tersebut digagas karena para eksekutif percaya bahwa lingkungan kerja yang menyenangkan akan mendorong produktivitas karyawan yang sudah ada dan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pegawai yang akan bekerja disana.

Tidak hanya berhenti pada reformasi area kerja saja, banyak perusahaan sekarang mulai menerapkan budaya kerja baru, salah satunya adalah agile working. Dalam bahasa Indonesia, kata agile diterjemahkan menjadi tangkas, gesit, lincah. Agile working merujuk pada cara kerja yang tidak terbatas ruang, waktu dan cara kerja lama yang terlalu berbelit, menyita waktu, energi dan tidak jarang menghambat kreativitas dan produktivitas karyawan.  

Dalam budaya agile working, karyawan diberi kebebasan untuk memilih dari mana mereka bekerja, jam kerja mereka dan bagaimana cara mereka bekerja. Agile working menghilangkan tolak ukur konvensional seperti tempat kerja yang tetap dan absensi kehadiran karyawan. Menurut salah seorang karyawannya, PwC sudah mulai mengimplementasikan budaya agile working di kantor cabang Jakarta. Memandang karyawan banyak yang bekerja dari luar kantor, pihak PwC mulai tahun ini mengurangi jumlah meja yang disediakan dan menggantinya dengan memperbanyak loker bagi karyawan untuk menyimpan barang-barang mereka. Meja dijadikan area kerja bersama bagi siapapun yang kebetulan sedang berada di kantor. Selain memperbanyak loker, area meeting juga akan diperbanyak, mengikuti jejak kantor cabang PwC di negara lain yang sudah terlebih dahulu menerapkan agile working.

Tujuan utama mulai diterapkannya budaya agile working adalah untuk mengurangi masalah yang ditimbulkan dari budaya kerja konvensional seperti kemacetan pada jam pergi pulang kantor dan polusi udara yang semakin hari semakin parah disebabkan oleh banyak kendaraan para karyawan, dan stres berlebihan pada karyawan saat pergi pulang kerja. Bekerja di kantor pun sebenarnya tidak menjamin produktivitas tinggi, karena banyaknya gangguan yang mungkin muncul seperti bergosip dengan teman sebelah, sibuk browsing di internet, atau fisiknya ada di kantor sedangkan pikirannya entah dimana.

Agile working memberikan fleksibilitas ruang, waktu dan cara kerja, dan berorientasi pada target hasil kerja yang optimal. Kondisi bekerja yang terlalu terpaku pada aturan mengenai ruang dan waktu dipercaya akan membatasi kreativitas dan produktivitas. Oleh karena itu, agar karyawan bisa lebih fokus pada performance dan outcome, semakin banyak perusahaan yang mulai merombak budaya kerja mereka untuk mulai bergerak ke arah agile working.  

Walaupun terdengar sangat revolusioner, agile working juga memiliki beberapa kendala. Tidak semua sektor usaha bisa menerapkan agile working, contohnya penyedia jasa seperti perhotelan mengharuskan karyawannya untuk hadir di tempat untuk bisa menjalankan pekerjaannya. Lini produksi barang pun belum bisa menerapkan budaya agile working. Pekerja IT, atau sektor industri kreatif lebih mungkin untuk mengadopsi agile working. Tidak hanya itu saja, isu kepercayaan dan rasa tanggung jawab dalam bekerja adalah tantangan terbesar sebelum budaya agile working dapat diterapkan dalam sebuah perusahaan, khususnya di dalam negeri.

Terlepas dari tantangan yang ada, tidak bisa dipungkiri bahwa memang agile working sudah mulai merambah dunia kerja tanah air. Apakah Anda tertarik untuk mengadopsi agile working di lingkungan kerja Anda? [EV]

©2017 NDC Ministry. All Rights Reserved.
Powered by GerejaSoft.com